DEMI HASRAT YANG TAK PERLU USAI

Apa perbedaan cinta dengan suka? Cinta adalah… kata kerja yang naif: selalu memberi, tak harap kembali. Seperti hubungan tak terjelaskan antara kita dengan orang tua. Kita senang waktu bisa bikin mereka senang, ikut sedih waktu mereka sedih. Bahkan, sudah berhantam sehebat apa juga, tapi tetap saling sayang; mau sekesal apa juga, selalu ada kata maaf. Suka? Seperti perasaan saya terhadap sebatang cokelat hitam, atau kombinasi nasi panas, gulai daun singkong, dan ikan teri medan goreng pakai cabai, atau terhadap Vespa klasik, atau wanita-wanita cantik di halaman majalah. Sebagian suka bisa segera memudar dengan wajar ketika apa yang saya inginkan dari … Lanjutkan membaca DEMI HASRAT YANG TAK PERLU USAI

AGAMA PESANAN, KEBEBASAN, DAN KEBENARAN

“Begitulah sekiranya saya memandang agama. Iman kita sama, cangkir ini. Tapi tak ada satu pun yang menghalangi kita untuk mengisinya dengan agama-agama yang berbeda,” tulis teman saya, wanita berpakaian agamis, di blog pribadinya. *** Saya masih ingat waktu terakhir kali kami tiba-tiba membahas topik ini: agama, dia dan bagaimana seharusnya saya berpikir kritis. Mimik dan gerak tubuhnya begitu bersemangat, bahkan untuk menggubris jawaban saya. “Iya, Feb, iya.” Walau menduga-duga ada apa dengan dia, tapi saya suka karena dia mau bergumul dengan kepercayaannya. Selang beberapa bulan, saat isu legalisasi pernikahan beda agama ramai di media massa, dia mengirimi saya pesan lewat … Lanjutkan membaca AGAMA PESANAN, KEBEBASAN, DAN KEBENARAN

APA ITU ADIL?

Ibarat satu nasi bungkus dan empat orang lapar. Orang pertama bilang, “Oke, sini biar saya bagi empat sama besar. Satu buat saya, tiga lainnya masing-masing buat kalian. Adil.” “Nanti dulu!” sanggah orang kedua. “Apanya yang adil. Saya kerja lebih keras buat nasi bungkus ini. Saya harus dapat lebih besar. Salah sendiri kenapa kalian nggak segigih saya tadi.” “Aduh… kalian ini. Nggak lihat teman kita sudah kayak orang mati lemas begitu. Kasih dia porsi lebih besar lah. Buat saya nggak apa-apa lebih kecil. Saya masih kuat,” kata orang ketiga. “Eh, Nggak apa-apa kok. Saya dikasih sebesar apa, terserah. Yang penting saya … Lanjutkan membaca APA ITU ADIL?

MENIKAH DENGAN KENYATAAN

Cinta, sebagai sebuah rasa, mungkin saja tidak membutuhkan biaya, tapi pernikahan, iya! Nyatanya, budaya kita terlanjur membungkus pernikahan menjadi perjamuan besar bahkan seremoni yang berkepanjangan, lebih dari sekadar ritual suci yang menyatukan dua manusia… Oleh: Lucky F. C. Lombu Dwi pusing bukan kepalang. Saya mengenal nama ini dari seorang teman. Dia baru saja menguras isi dompet dan sebagian besar tabungannya. Rencana pernikahannya dengan Hera, kekasihnya sejak masa kuliah, berhasil membujuk konsultan keuangan itu untuk melepas selembar demi selembar rupiah yang dikumpulkannya bersama pasangan. Ya… mereka memang tidak mendanai pernikahan itu seorang diri. Orang tua dari kedua belah pihak juga turut … Lanjutkan membaca MENIKAH DENGAN KENYATAAN

BERKOMPROMI DENGAN LANGIT

Relaks, lalu serahkan sisakan kepada pilot dan Sang Mahakuasa… Oleh: Lucky F. C. Lombu Langit di atas pulau Bintan mendua siang itu. Dari pelataran parkir pesawat Bandar Udara Raja Haji Fisabilillah, Tanjung Pinang, saya bisa melihat awan hitam pekat menggantung di sisi kiri, berbanding terbalik dengan keceriaannya di sisi kanan. “Yah, bakal turbulence nih,” pikir saya. Pengalaman lumayan menengangkan di atas Yogyakarta beberapa bulan sebelum itu membuat saya sedikit khawatir. Maklum, guncangan kala lepas landas dari Bandar Udara Adisucipto sempat membuat tubuh saya beberapa kali terlepas sekian centimeter dari kursi pesawat. Dihempas seenaknya ke atas dan ke bawah, ke kiri … Lanjutkan membaca BERKOMPROMI DENGAN LANGIT

Laki-Laki Jangan Menangis, Katanya

Mereka tersenyum. Ia yang tersimpan sejak sembilan bulan lalu akhirnya menghirup nafas pertamanya. “Selamat, Pak. Selamat, Bu,” kata dokter yang baru saja membantu mengeluarkan bayi itu dari tubuh ibunya. “Terima kasih, Dok,” jawab bapak. Sementara ibu hanya tersenyum, sambil memeluk lembut bayinya di atas dada. Ia masih terlalu lemas setelah bertugas. Tapi ia bahagia, karena perjuangannya terbayar tuntas. Isakkan tangis bayi laki-laki itu memberinya berjuta rasa. *** “Joni, pelan-pelan, nanti jatuh!” sahut ibu. “Tenang, Bu, Joni sudah jago kok,” jawab laki-laki kecil itu percaya diri. Sepeda terus dikayuh kencang penuh semangat, berputar-putar mengelilingi lapangan basket di depan rumah mereka. Sesekali Joni … Lanjutkan membaca Laki-Laki Jangan Menangis, Katanya

‘Wefie’ Seru Bareng Pasangan (Escape With Cita Cinta)

Wefie bareng pasangan ternyata seru juga ya. Ada romantisme yang lucu waktu kita sama-sama bingung mau pose seperti apa, berdiri di sebelah mana, lalu mulai berbagi ide, “Begini aja…”, “Nggak. Coba deh Kamu di sini…”, mencoba, tapi ternyata hasilnya… ya begitu saja. Hahaha. Seru. Asal nggak malahan jadi berantem ya. *** Nah, pagi itu saya diajak pasangan saya menemani dia ke Photo Race ‘Close Up Moment’ bersama Majalah Cita Cinta dan Pasta Gigi Close Up, Sabtu, 4 Oktober 2014, di Kota Tua Jakarta. Ceritanya saya mengiyakan saja tanpa tahu detail format acara. Maklum, semangat sudah terlanjur membara gara-gara sudah lama … Lanjutkan membaca ‘Wefie’ Seru Bareng Pasangan (Escape With Cita Cinta)

Keliling Danau di Hutan Bakau

Taman Wisata Alam Mangrove, Muara Angke adalah cerita lain dari Jakarta. Dia berbeda dengan kebanyakan tujuan wisata di daratan Jakarta. Dia menawarkan eksotisme hutan bakau, pemandangan burung-burung yang bebas berterbangan, bahkan kesempatan mengintip biawak yang sedang beristirahat di sela-sela pohon. Salah satu favorit saya adalah jalur di tengah danau, yang diapit pepohonan. Rasanya seperti sedang melintas di pedalaman entah di mana. Suasana asyik. Tapi sayang, saya cuma bisa merekam pakai kamera handphone. Soalnya, kalau mau pakai kamera DSLR atau kamera saku, harus bayar Rp1 juta. Mahal! Untuk keliling danau, ada beberapa pilihan. Waktu itu saya menumpang perahu motor. Tinggal duduk, ikuti saja ke mana petugas … Lanjutkan membaca Keliling Danau di Hutan Bakau

CEMBURU DENGAN BIJAK

Cemburu itu katanya pertanda cinta. Apa iya? Kalau di Kitab Suci saya sih bilang tidak begitu. Paulus menulis, “Cinta tidak cemburu.” Kontradiktif memang. Tapi logis kalau Kamu setuju cinta adalah kata kerja, yang naif: selalu memberi, tak harap kembali. Walau saya juga pecemburu, tapi setengah otak saya berpikir cemburu tidak ada gunanya. Alasannya sederhana, setiap kita adalah orang bebas, bisa memilih, bisa berkehendak. Kalau dia memang memilih bersama yang lain, apakah cemburu bisa menahan dia pergi? Tidak juga. Sebaliknya, tekanan dan amarah justru bisa memantapkan seseorang untuk berlalu. Bagi saya solusinya cuma dua: menjaga si dia dan menyelesaikan masalah dengan baik, atau membiarkannya pergi. … Lanjutkan membaca CEMBURU DENGAN BIJAK

AJARI AKU BERCINTA

“Ajari aku bercinta,” katanya. “Bukan! Maksudku bukan seks kayak dipikiran orang-orang itu. Maksudku, ya… kayak pacaran gitu.” “Habis aku bingung. Kok kayaknya nggak ada yang mau pacaran sama aku.” *** “Aku sebenarnya suka sama satu orang. Kayaknya dia juga suka… eh, tapi nggak tahu deh. Dia baik sih, perhatian. Dia suka kasih aku sesuatu, mau bantu atau temani jalan kalau aku minta, kadang ajak chatting tanya kabar, dia juga nge-add Facebook teman-temanku lho. Apa itu bukan tandanya aku spesial?” lanjutnya “Tapi, ah, aku nggak tahu, dia juga suka atau nggak. Habis sudah selama ini kok begini-begini aja, kadang dia kayak … Lanjutkan membaca AJARI AKU BERCINTA

Terkenang Kode Ukulele dari Papa Talu

Ukulele ini mengingatkan saya kepada Papa Talu Ama Dharma Lombu, salah satu adik Ayah saya. Saya ingat bincang-bincang santai kami di samping jendela rumah Kakek-Nenek saya di Nias, beberapa saat sebelum saya kembali ke Jakarta. “Kamu nggak mau tinggalin buat adik-adik kamu di sini.” Pertanyaan yang baru saya pikir beberapa minggu setelahnya, apakah itu semacam kode untuk meminta ‘mainan’ yang saya bawa ini? Ukulele ini memang sempat menjadi primadona. Maklum saja, kami orang Nias suka bermusik dan bernyanyi. Tapi, ah, saya memang tidak pintar menerjemahkan kode. Alat musik petik empat senar itu saya bawa pulang ke Jakarta. Tak terasa, ternyata itu terjadi 11 … Lanjutkan membaca Terkenang Kode Ukulele dari Papa Talu