BERKOMPROMI DENGAN LANGIT

Relaks, lalu serahkan sisakan kepada pilot dan Sang Mahakuasa…

Oleh: Lucky F. C. Lombu

Langit di atas pulau Bintan mendua siang itu. Dari pelataran parkir pesawat Bandar Udara Raja Haji Fisabilillah, Tanjung Pinang, saya bisa melihat awan hitam pekat menggantung di sisi kiri, berbanding terbalik dengan keceriaannya di sisi kanan. “Yah, bakal turbulence nih,” pikir saya. Pengalaman lumayan menengangkan di atas Yogyakarta beberapa bulan sebelum itu membuat saya sedikit khawatir. Maklum, guncangan kala lepas landas dari Bandar Udara Adisucipto sempat membuat tubuh saya beberapa kali terlepas sekian centimeter dari kursi pesawat. Dihempas seenaknya ke atas dan ke bawah, ke kiri dan ke kanan. Menegangkan!

Tapi keberangkatan harus tetap dilakukan…

Saya sudah duduk di kursi samping lorong, bagian kanan agak ke tengah pesawat saat gerimis mulai menari-tari di kaca terluar. Saya memainkan nada-nada lamban dari iPod, serta berusaha menyelam ke dalam kisah romantis berlatar pergolakan politik di Cili dari novel Il Postino. Saya butuh mengalihkan ketegangan. Tentu saja setelah berdoa semoga pesawat berukuran sedang itu terbang ke arah yang lebih cerah, tanpa perlu mengalami turbulence.

Dan…

Ya! Permintaan yang saya layangkan bertubi-tubi itu dikabulkan! Walau saat rolling take-off pesawat sempat bergerak ke kanan ke kiri seperti mobil oleng di jalan rusak, tapi semuanya lancar. “Mungkin karena angin,” analisa Mario Tetuko Hasiholan Pangaribuan, Captain Boeing 737 900 ER, tentang gerakan itu—Kami berbincang beberapa minggu setelah kejadian—“Saat rolling take-off, pilot akan berusaha mengontrol supaya pesawat tetap berada di tengah jalur landasan pacu. Karena kalau harus terjadi pembatalan take-off, masih ada ruang aman. Dan saat itu mungkin pilot sedang berusaha mengontrol efek daya dorong angin.”

“Ada empat hal yang bisa membatalkan take-off,” tambah sang kapten.  “Mesin mati satu, mesin terbakar, pilot tidak bisa menggerakkan pesawat, atau pilot merasa penerbangan tidak aman. Pemeriksaan pasti dilakukan sebelum keberangkatan. Pembatalan itu terjadi karena masalah di luar keinginan kita.”

Clear Air Turbulance
Sekian menit kemudian, pesawat berukuran sedang itu sudah mengudara. Mengintip ke luar jendela, langit ternyata cerah. Terlalu cerah untuk berubah menjadi hujan—dan mengundang turbulence. Kalaupun terjadi getaran-geratan kecil, biasalah. Saya berusaha memanipulasinya seperti sedang melewati jalan tak mulus di tengah Jakarta. Lagipula, pesawat sudah terbang sekian lama.  Mungkin detik itu kami sudah mendekati langit selatan pulau Sumatera.

Dua pramugari di pesawat itu juga sedang menarik dagangan mereka. Tapi entah telah diperhitungkan atau tidak, tak lama setelah mereka kembali ke belakang, pesawat berguncang. Sementara saya sedang berkompromi dengan pikiran-pikiran imajinatif negatif di kepala saya, seisi pesawat terhembas! Beberapa kali ke samping kiri, lalu ke bawah. Oh tidak… turbulence! Tapi kenapa? Cuaca di luar sangat cerah.

Saya mengerti kemudian. Mario menjelaskan: turbulence terjadi ketika adanya perbedaan tekanan udara, tinggi ke rendah, atau sebaliknya. Hujan memang pasti menyebabkan situasi itu—selain karena air yang jatuh menambah beban pesawat—Tapi, ada satu lagi situasi yang disebut CAT alias Clear Air Turbulance. “Sebenarnya udara bersih, tapi juga terjadi turbulence. Hal ini disebabkan oleh kondisi tekanan udara di atas tinggi, sedangkan tekanan udara di bawah rendah.” Oh.

Redakan Cemas
Situasinya menegangkan. Teman di samping kanan saya diam, memasrahkan tubuhnya tergeletak sedikit kaku di sandaran kursi. Konon, teman saya di kursi belakang sudah mulai mengumamkan ayat-ayat suci. Saya diceritakan teman saya yang lain.

Sepertinya efek sore itu nyaris setali-tiga-uang dengan pengalaman menembus awan hitam di langit Yogyakarta. Bedanya hanya di intensitas yang lebih singkat. Saat kejadian, saya berusaha mengantispasi dengan mencengkram kuat-kuat kursi di depan, lalu mengangkat sedikit pantat saya untuk menghindari sensasi kejut yang bisa timbul jika tubuh saya harus terlepas dari kursi. “Tindakan Anda sudah cukup tepat jika itu bisa membantu mengatasi gejala rasa cemas,” kata Widura Imam Mustopo, Kepala Sub Dinas Psikologi Personil di Dinas Psikologi Angkatan Udara Republik Indonesia. Yang terpenting bagi Widura adalah bagaimana kita menenangkan diri, atau mengalihkan kecemasan sementara waktu. Walau mungkin tidak menyelesaikan masalah hingga ke akarnya, tapi paling tidak bisa memberi solusi praktis.

Teriak juga membantu. Tindakan refleks semacam itu bisa meredakan ketegangan, selain melepaskan udara di dalam dada. Tapi sedikit catatan dari Widura: jangan sampai tindakan itu malah menularkan rasa cemas ke orang-orang di sekitar kita.

Bandul Terbang
Dari Mario saya juga tahu, ternyata saya masih punya alasan lain untuk menenangkan diri. Katanya, pesawat dengan kualitas baik pasti sanggup melewatinya tantangan tersebut sampai batas tertentu. Pesawat di desain seperti bandul. Jika bergoyang, dia akan kembali lagi ke posisi semula. “Turbulance yang bisa dihadapi Boeing maksimal 9 G. Kalau sampai 9,1 G pesawat bisa pecah. Saya maksimal pernah mengalami 2,2 G. Rasanya seperti main wahana menegangkan di Dufan. Sesak nafas, jantung seperti tertinggal di belakang.” Wih…

Yang agak mengkhawatirkan justru kalau tekanan itu terjadi secara vertikal dan menyerang salah satu bagian sayap. Pesawat bisa berputar. Anda penumpang awam tentu tidak ingin membayangkan dampaknya. Kata sang kapten, situasi ini bisa terjadi jika pesawat melintas di awan kumulonimbus, awan yang siap berubah menjadi awan hujan.

Saya berpikir, apakah situasi saat itu ada hubungannya dengan ukuran pesawat yang tidak terlalu besar, sehingga dia cukup ringkih saat berhadapan dengan tekanan? “Coba Anda perhatikan, ukuran pesawat tempur dengan beberapa pesawat kecil, sama. Tapi kenapa pesawat tempur lebih siap menghadapi turbulence? Karena permukaannya lebih ceper,” jawab Mario.

Ukuran memang berpengaruh, tapi bentuk permukaan lebih berpengaruh. Bagian tubuh pesawat ‘gendut’ lebih mudah terpapar angin. Sangat logis. Tapi, jika kita menyoal kekuatan angin, tanpa memperhitungkan beberapa hal teknis seperti permukaan tadi, pesawat besar tentu lebih kuat untuk bertahan.

Ada Pilot di Kemudi
Hal lain yang menenangkan saya adalah keberadaan sang pilot di depan kemudi. Pikir saya, dia pasti juga ingin tetap dalam kondisi sehat wal afiat ketika menjejakkan kaki di darat. Dengan demikian, sewajarnya kalau dia berusaha mengeluarkan kemampuan semaksimal, persis seperti yang ditegaskan kembali oleh Mario.

Sebelum terbang, sebenarnya pilot sudah diberi data tentang kondisi udara, termasuk risiko yang bisa terjadi. Jadi mereka tahu kalau dia dan penumpangnya akan melewati kemungkinan tertentu. “Kami sudah dilatih cara untuk mengatasi situasi tersebut,” kata Mario. Tapi, kalau sudah tahu ada risiko itu, kenapa dihindari saja?

Seperti kisah pelik kehidupan, ada kalanya rintangan awan hitam itu bisa dihindari, tapi ada kalanya juga tantangan itu harus dilewati. Salah satu alasannya sederhana: bahan bakar. “Sebuah pesawat hanya dibekali bahan bakar secukupnya. Kalau awan hitam sampai 60 mil? Pilot pasti berpikir tentang kesediaannya di tangki penampungan.”

Sengatan Petir
Menyoal awan hujan, ada satu masalah lain yang bermain-main di imajinasi liar saya: petir. Ya, saya tidak tahu bagaimana dia bisa masuk dan menggangu pikiran saya. Tapi seperti yang mungkin pernah Anda saksikan, beberapa film Hollywood pernah mempertontonkan risiko tersebut. Sialnya, mereka benar! Pesawat memang bisa terkena petir. Tapi kata Mario, sistem statis discharge yang tertanam di dalamnya membuat sengatan elektrik itu tidak mungkin mengenai bagian tubuh pesawat. Walau itu juga artinya bagian sayap bisa terbakar. Betul. Dan bahayanya jika korbannya adalah mesin. Waduh…

Satu hal yang kembali bisa menenangkan kita adalah standar kelayakan terbang sebuah pesawat. “Pesawat dinyatakan layak terbang jika dia bisa terbang hanya dengan satu mesin, namun tetap dengan kemampuan terbang yang sama ketika semua mesinnya menyala. Satu mesin pesawat bisa digunakan untuk menunggu mendarat hingga satu jam,” jelas Mario. Yang bahaya adalah jika api tidak kunjung padam. Prosedurnya, tidak ada waktu lagi, pesawat harus segera mendarat, di manapun juga.

Murah, Nyaman atau Aman?
Untunglah, pada akhirnya pesawat yang saya tumpangi mendarat dengan baik di Bandar Udara Soekarno-Hatta. Dasar pria, pengalaman barusan malah jadi bahan lelucon ringan dan analisa sok tahu antara saya dan beberapa teman seperjalanan. Tapi kejadian itu kembali menenangkan rasionalitas saya: saya pasti bukan yang pertama mengalami situasi itu di atas sana. Dan dengan fakta itu, ribuan pesawat dari berbagai maskapai penerbangan ternyata sukses hilir-mudik membelah awan. Dengan kata lain, seharusnya terbang bukanlah menjadi momok yang harus 100% dihindari. Lagipula Beberapa literatur menyebutkan kalau kecelakaan yang sampai merengut nyawa penumpang sangat minim terjadi, dibandingkan dengan hal yang sama terhadap jenis transportasi lain.

Apapun itu, sarannya sama seperti tulisan yang mungkin pernah Anda baca di belakang truk besar antar kota: Utamakan selamat. Atau seperti kata Mario, “Jangan mengabaikan keamanan demi keuntungan ekonomis. Keamanan itu adalah investasi.” Dari tiga pilihan: murah, nyaman atau aman, pilihlah prioritas ketiga. Mario menyebut maskapai penerbangan asing yang tidak menjadikan murah dan nyaman sebagai prioritas. Dia mahal dan sering terlambat berangkat. Tapi mereka menjual jaminan keamanan hingga ke tempat tujuan. Dilema memang. Keputusan di tangan Anda. Tapi lagi sarannya: kepercayaan adalah salah satu hal yang bisa membuat Anda tenang saat berada di atas sana.

(Telah dimuat di Rubrik Stres Majalah Men’s Health Indonesia edisi Juni 2012)
Iklan

3 pemikiran pada “BERKOMPROMI DENGAN LANGIT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s