MENIKAH DENGAN KENYATAAN

Cinta, sebagai sebuah rasa, mungkin saja tidak membutuhkan biaya, tapi pernikahan, iya! Nyatanya, budaya kita terlanjur membungkus pernikahan menjadi perjamuan besar bahkan seremoni yang berkepanjangan, lebih dari sekadar ritual suci yang menyatukan dua manusia…

Oleh: Lucky F. C. Lombu

Dwi pusing bukan kepalang. Saya mengenal nama ini dari seorang teman. Dia baru saja menguras isi dompet dan sebagian besar tabungannya. Rencana pernikahannya dengan Hera, kekasihnya sejak masa kuliah, berhasil membujuk konsultan keuangan itu untuk melepas selembar demi selembar rupiah yang dikumpulkannya bersama pasangan. Ya… mereka memang tidak mendanai pernikahan itu seorang diri. Orang tua dari kedua belah pihak juga turut ambil bagian. Tapi, yang saya dengar, pernikahan dua sejoli yang sudah bersama selama delapan tahun itu akan berlangsung besar-besaran.

“Dwi?” tegur teman saya untuk kesekian kali.

“Hah?” Dwi menjawab sekenanya. Sepertinya dia masih melayang bersama angka-angka yang baru saja hilang.

RASIONALISASI IMPIAN
Masalah pernikahan dengan nominal yang mengikuti di belakangnya itu memang tidak bisa dipandang sebelah mata. Apalagi untuk kita, masyarakat Indonesia yang memiliki budaya pernikahan yang cukup unik.

Beberapa waktu lalu ketika menghadir sebuah resepsi, seorang kerabat jauh menceritakan rencana pernikahan anaknya yang tertunda karena besarnya tuntutan biaya—malah kemungkin batal sama sekali. Jumlah angka yang muncul karena sistem adat-istiadat di keluarga calon pendamping anaknya, membuat mereka harus berpikir seribu kali. “100 juta. Itu cuma untuk biaya lamaran. Belum termasuk yang lain-lain,” jelas pria itu. Ya, pada satu titik, sebagian orang memang harus merasionalisasi impian akan pernikahan kudus dengan sebuah realitas yang kita sebut, uang.

Anda, warga urban, mungkin lebih beruntung karena cenderung memiliki ruang untuk beradaptasi dengan nominal tersebut. Anda memiliki lebih banyak peluang untuk menyederhanakan prosesi pernikahan, jika Anda, pasangan, dan keluarga besar menyetujuinya. Budaya global agaknya memberi dampak positif dalam hal ini. Situasi penyusunan anggaran biaya pernikahan bahkan bisa menjadi saat yang tepat untuk mengasah kemampuan mengelola keuangan pribadi dan keluarga di masa mendatang.

KEHIDUPAN SETELAH MENIKAH
Sebenarnya, apa yang paling Anda dan si Dia butuhkan dari pernikahan? Ya, pernikahan itu sendiri. Tapi bukan hanya sebagai sebuah pesta, melainkan penyatuan secara utuh antara Anda dengan pasangan. “Wedding is not a marriage,” begitu kata Roslina Verauli, Psikolog dari Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta. “Anda jangan sampai menghambur-hamburkan uang untuk sebuah pesta, karena Anda masih harus membangun keluarga setelah pesta selesai.”

Ini yang sebaiknya Anda pahami. Anda masih harus menikmati bulan madu, membeli rumah, mempersiapkan diri untuk memiliki buah hati, dan lain-lain. “Tapi intinya, pastikan jangan sampai Anda kesulitan setelah menikah,” tegas wanita yang akrab disapa Vera itu.

KONSEP, ATAU UANG?
Saya jadi ingat dengan celoteh Toar, teman saya yang lain, beberapa bulan sebelum dia menikahi Gina. Perbincangan ringan yang awalnya membahas konsep pemotretan pre-wedding berlanjut dengan imajinasi tentang acara pernikahan yang terbentur realitas. Setelah menggambar khayalannya dengan nada lemah, dia menutup, “Kalau ngikutin maunya sih banyak. Tapi…” Ya, tapi pada akhirnya kita harus mau berkompromi dengan jumlah dana yang kita miliki.

Persis seperti pendapat Vera, kalau menentukan pernikahan dari apa maunya, pasti banyak. Tapi alangkah lebih bijak jika Anda menyadari kemampuan keuangan Anda terlebih dahulu, berapa dana yang Anda miliki. Lebih jauh, setelah menikah, di mana Anda dan si Dia akan membangun kehidupan. “Pengalaman teman saya, 10 tahun yang lalu dia menikah, besar-besaran, tapi setelah itu tinggal menumpang orangtua,” cerita Vera.

Prita Hapsari Ghozie, CEO & Chief Financial Planner ZAP Finance, memberi pilihan lain. “Jika Anda masih punya waktu untuk mengumpulkan uang, tidak ada salahnya lho untuk mewujudkan pernikahan impian. Tapi, jika waktu sudah mepet, maka yang harus dilakukan hanyalah menyesuaikan konsep acara dengan uang yang dimiliki. Apa pun latar belakang Anda, jangan sesekali mengutang untuk kawin dan mengharapkan bayar utang dengan uang angpao! Saat saya menikah 10 tahun lalu, kami memilih menyesuaikan dengan dana yang ada dan pastinya tidak berutang.”

MENIKAH DENGAN KELUARGA
Peran keluarga dalam sebuah pernikahan di budaya kita memang cenderung penting. Ada yang bilang, menikah berati juga menikah dengan keluarga. Nuansanya bahkan kadang sudah terasa saat semua itu masih dirancang. Misalnya, jika Anda dibiayai keluarga, mau tidak mau Anda harus menyesuaikan diri dengan keinginan mereka, termasuk dengan adat-istiadat dan lain-lainnya. “Jika Anda mengurus biaya pernikahan sendiri, silakan, Anda tentu punya hak untuk menentukan seperti apa pernikahan Anda ingin dilaksanakan,” lanjut Vera. Tapi, Anda harus tahu cara pandang keluarga pasangan Anda, tentang di mana posisi suara mereka. “Keluarga besar menentukan atau tidak?” Ingat, sebagian orangtua menganggap pernikahan adalah salah satu waktu yang tepat untuk menjalin hubungan dengan relasi bisnis, atau waktu yang tepat untuk berkumpul dengan anggota keluarga yang tersebar jauh. “Jadi, pertama yang harus Anda pahami saat menentukan anggaran pernikahan adalah adat-istiadat dalam keluarga Anda berdua,” kata Vera. “Selain yang kedua, sumber keuangan pernikahan Anda. Apakah dari keluarga atau biaya Anda sendiri.”

Pertanyaannya, bagaimana jika mereka memaksa untuk mengintervensi? Anda harus belajar berbesar hati untuk berkompromi, saran Vera. “Bicarakan seperti apa kebutuhan mereka.”

JANGAN BERHUTANG!
“Tentu tidak disarankan untuk berhutang. Saya pernah punya klien yang demi membuat pesta adat sampai harus meminjam kredit tanpa agunan hingga ratusan juta rupiah. Nah, akhirnya, mereka pun harus membayar cicilan biaya pernikahan hingga lima tahun setelahnya. Dan akibatnya apa? Punya rumah pun jadi tertunda,” kata Prita. “Solusinya, tentu saja sadar dengan kemampuan diri sendiri. Siapa sebenarnya yang sedang kita bodohi? Buat apa membuat pesta besar demi harga diri kalau akhirnya kita tidak bisa punya rumah?”

Vera menambahkan, mengenai hutang-piutang, dari awal harus terbuka. “Saya pernah menangani kasus, istri kurang mampu, tapi untuk menunjukkan kemampuan, dia sampai berhutang. Tapi setelah pernikahan urusannya malah jadi panjang.”

Jika mengingat situasi ini, Vera menyarankan supaya Anda tidak tutup mata tentang perjanjian pra-nikah. “Saya tidak sedang mengharuskan ya. Kalau tidak mau juga tidak apa-apa. Tapi itu perlu, bukan hanya tentang harta gono-gini, tapi juga tentang hal lain di samping itu,” kata Vera.

ANGGARAN PERNIKAHAN
Buatlah anggaran pernikahan. “Dengan membuat anggaran pernikahan Anda akan menjadi sangat realistis dalam mewujudkan apa yang paling penting Anda berdua. Anda pun bisa mengetahui kemana pos pengeluaran terbesar, apakah gedung pernikahan, baju pengantin, atau makanan,” kata Prita. Dengan demikian, Anda bisa memahami kenapa harus mengeluarkan sekian banyak uang untuk setiap hal. Sehingga Anda bisa menyesuaikan apakah ada yang perlu dikurangi atau bahkan ditambah.

Prita memberi sedikit panduan bagi Anda untuk menyesuaikan besaran persentase anggaran pernikahan. Dia mengurutkan dari yang paling penting:

  • AKAH NIKAH: porsi ini wajib ada karena disinilah esensi pernikahan. Anggarannya bisa mencapai 20% dari total.
  • RESEPSI: porsi ini bisa saja tidak dijalankan. Namun, dengan kondisi budaya di Indonesia memang masih sulit untuk dihilangkan. Maka, cara mensiasatinya adalah membuat resepsi pernikahan langsung setelah menjalankan Akad Nikah. Alokasi pengeluaran untuk gedung, makanan, baju pengantin, dekorasi, dan souvenir. Anggarannya bisa mencapai 50% dari total.
  • RANGKAIAN ACARA SEBELUM PERNIKAHAN: hal ini meliputi pengajian atau acara adat yang mungkin masih ingin dilakukan. Sebaiknya alokasi hanya 15% dari total anggaran.
  • BULAN MADU. Nah, alokasi ini jangan dilupakan. Setelah sibuk mempersiapkan pesta pernikahan, alangkah baiknya jika pasangan pengantin baru dapat menikmati masa bulan madu yang menyenangkan. Alokasi bisa 10% dari total anggaran.
  • DANA BERJAGA-JAGA. Yang namanya bikin hajatan pasti ada saja hal yang sebelumnya tidak dialokasikan. Untuk itu coba sisihkan 5% dari total anggaran untuk pos ini.

NIAT BAIK
Pada akhirnya yang Anda perlukan hanyalah niat baik, untuk membangun sebuah keluarga yang sehat, termasuk secara finasial dan psikologis. Dan dasar dari semua itu adalah sesuatu yang membuat hati Anda mengatakan, “Ini dia orangnya.” Ya, sesuatu yang belakangan terdengar nyaris klise: cinta. “Kalau saling cinta, Anda dan si Dia pasti memiliki niat baik,” kata Vera.

Dia memberi contoh kasus kepala daerah dengan wanita muda yang menikah siri beberapa waktu lalu. Menurut Vera, pernikahan mereka kemungkinan tidak didasari niat baik. Masing-masing menginginkan sesuatu yang ternyata tidak mereka temukan dari pasangan. Ketika apa yang mereka inginkan tidak didapat? Cerai.

Jadi, sarannya, sadari dulu, masing-masing punya niat baik. “Makna pernikahan untuk apa? Sesuatu yang sakral, supaya bisa saling berbagi, berkumpul, dan membangun keluarga,” kata Vera. “Kalau ada niat baik, pasti Anda dan si Dia bisa saling berlaku adil,” pungkas Vera.

(Telah dimuat di Rubrik Stres Majalah Men’s Health Indonesia edisi Juni 2012)
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s