Bercinta ala Gentleman (2): Merebut Hati Mertua

Apa yang sebaiknya Anda lakukan untuk menjadi seorang gentleman? Coba pelajari saran dari Andrew Ardianto, Curriculum Director John Robert Powers, ini.

Baca juga: PDKT

RAIH SIMPATI KELUARGA

SITUASI: Anda dan si Dia sudah dekat, dan saatnya Anda berkunjung ke keluarga si Dia
MISI: Persetujuan!

Ingat ini: orang tua—termasuk calon mertua—adalah pribadi yang sangat menentukan dalam sebuah hubungan di Indonesia. “Kalau kita bicara etika, be as honest, jadilah sejujur mungkin,” kata Andrew. Jika Anda ingin menjalin hubungan yang serius—dan bertanggungjawab—dengan seorang wanita, Anda harus menceritakan siapa Anda sesungguhnya. Lebih baik ditolak dari awal, dari pada nantinya tidak disetujui karena sesuatu yang sebelumnya Anda terus sembunyikan. (Demikian juga terhadap pasangan Anda, mulailah sejak masa peralihan dari teman ke hubungan yang lebih istimewa).

Bertanya kepada pasangan tentang bagaimana orangtua-nya, juga ada baiknya. Sehingga Anda tidak terlalu kaget jika ternyata mereka pribadi yang mengejutkan. “Paling tidak, Anda sudah siap,” katanya. Dan apapun yang terjadi, jagalah sopan santun. Karena segalak-galaknya, mereka adalah orang tua pasangan Anda, yang mungkin juga akan jadi ‘orangtua’ Anda.

Nah, pahami ini juga: Anda yang butuh mereka, bukan sebaliknya. Mereka tidak merestui sekalipun, masalahnya tetap ada di Anda. Karena itu, berinisiatiflah. Anda bisa mulai pembicaraan seperti, ‘Apa kabar, Oom? Apa kabar, Tante?’ Lanjutkan dengan pembicaraan sederhana, pembicaraan sehari-hari. Dalam hal ini, Anda bisa saja bertemu dengan tipe orangtua yang pendiam, menjawab cuma dengan cara mendehem. Kadang-kadang ada orang tua yang coba menguji, ‘anak ini seperti apa’. Anda harus sensitif dengan hal itu. Orang yang tidak banyak bicara pun, kalau ketemu topik yang cocok akan menjadi komunikatif. Makanya, Anda harus punya pengetahuan yang sangat luas. “Buat saya, kalau saya ketemu orang dengan latarbelakang apapun, saya harus bisa bicara dengan gaya mereka. Sekali lagi adaptasi,” kata Andrew.

***

MENYATUKAN DIRI

SITUASI: Anda, si Dia, dan keluarga sudah semakin dekat.
MISI: Melamar!

Pertunangan di Indonesia nyatanya tidak sesederhana kalimat ‘Maukah kamu menikahiku?’ Bagi banyak tradisi di Nusantara, pertunangan terjadi setelah prosesi keluarga dengan keluarga bertemu.

“Saya rasa, mau tidak mau, Anda harus berbicara dengan pasangan Anda terlebih dahulu. Jangan sampai Anda sudah berbicara dengan calon mertua ternyata si wanita belum siap,” kata Andrew. Dia menyontohkan seperti satu adegan di film Battleship. Ceritanya, tokoh utama di film tersebut hendak melamar wanita pujaan hatinya. Itu artinya dia harus memberanikan diri bertemu dengan atasan tertingginya untuk minta izin menikahi anaknya. Tapi sebelum melangkah, dia sudah memberi pemberitahuan ke wanita kalau akan melamarnya.

Jadi, secara etika, yang pertama adalah persiapan dari Anda berdua. Lalu bicaralah kepada orangtua dan calon mertua, secara terpisah. Beritahu maksud Anda. Jika keduanya setuju, maka Anda bisa mengatur tanggal pertemuan. Jangan dalam waktu yang sangat singkat, sehingga kurang persiapan. Atau Anda malah bisa menciptakan masalah baru.

Baca juga: Cinta Pascamenikah

(Telah dimuat di Majalah Men’s Health Indonesia edisi Februari 2013, dengan perubahan seperlunya)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s