Bercinta ala Gentleman (4): Etika dan Jenis Kelamin

Etika sebetulnya adalah panduan bukan aturan. “Kenapa disebut panduan, karena kita bicara tentang pakemnya, dan itu semua masuk akal,” kata Andrew Ardianto, Curriculum Director John Robert Powers. Kenapa ada istilah ‘wanita lebih dulu’, dalam etika. Karena pria harus masuk ke dalam fungsinya sebagai pelindung. Pria bisa lihat dari belakang, memantau, kalau ada apa-apa dengan wanita itu kita siap maju untuk melindungi. “Bukan berarti kita biarkan dia mati duluan.”

Secara etika, kita mengenal perbedaan jenis kelamin. Fungsi pria adalah pelindung—kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga adalah bentuk rusaknya fungsi pria—Di lain sisi, wanita sebagai pendukung. Pria adalah kepala, dan wanita adalah leher. Leher tidak berusaha mengambil keputusan sepihak, tapi leher bisa mempengaruhi kepala untuk mengangguk atau menggeleng. Dan fungsi leher itu adalah mendukung. “Bayangkan apa jadinya jika kepala tidak ada leher?” katanya.

Kuncinya, sebelum Anda bicara etika, Anda harus masuk ke dalam komunikasi lebih dahulu. Etika dan komunikasi adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. “Komunikasi itu kuatnya di mendengar. Orang yang mau banyak mendengar, bicaranya pasti bagus, sopan. ‘Saya bisa menolong apa?’ bukan, ‘Apa sih kamu panggil-panggil?’ Itu sudah menunjukkan itikad kita mau mendengarkan atau tidak,” kata Andrew.

Apa yang keluar di mulut hanya efek samping apakah Anda mau mendengar atau tidak. Etika akan selalu bicara penghormatan, penghargaan. Dan penghormatan akan mengorbankan satu kata, ego. Orang yang mau menghargai orang lain selalu akan mengorbankan egonya. Dia harus mengensampingkan hal itu.

Dalam hubungan, kalau terjadi konflik, tidak boleh salah satu mengalah, harus dua-duanya mengalah. “Kalau sudah menjadi konflik, sama-sama egonya main sendiri-sendiri. Padahal Anda harus buang ego Anda. Anda belajar ‘kamu maunnya apa, dan apa yang kamu harapkan dari aku?’ Saya tidak percaya hukum menerima dan memberi, tapi hukum memberi dan menerima. Kalau Anda mau dihormati, belajarlah untuk menghormati lebih dahulu,” pungkasnya. Anda pasti bisa!

(Telah dimuat di Majalah Men’s Health Indonesia edisi Februari 2013, dengan perubahan seperlunya)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s