Katulampa, Selalu Ada Pilihan?

Katulampa itu ibarat selebritis musiman. Namanya tiba-tiba jadi bahan omongan ketika musim penghujan datang. Paling tidak bagi penghuni Jakarta. Alasannya sederhana, bendung ini dianggap bisa meramal: “Apakah Jakarta banjir hari ini?”

Oleh: Lucky F. C. Lombu

Bendung Katulampa dibangun pada tahun 1911 untuk memenuhi kebutuhan sistem irigasi pertanian di Buitenzorg alias di Bogor, Jawa Barat. Pun demikian, dia juga digunakan dalam sistem peringatan dini mengenai kondisi air yang akan mengalir ke Ibu Kota. Ya, layaknya sebuah bendung, bukan bendungan, perannya adalah menampung untuk membagikan, bukan untuk menahan. Tapi, sebagian orang Jakarta tampaknya terlanjur menaruh harapan, kalau Katulampa bisa menahan besaran air yang mungkin bakal tumpah. Padahal, tidak.

Yang menarik, jarak dari Bendung Katulampa ke Pintu Air Manggarai, Jakarta itu berkisar 68,6 km, atau butuh waktu perjalanan sekitar delapan sampai sembilan jam. Air bahkan harus lebih dulu melewati Pintu Air Depok di kilometer ke 32 atau jam ke tiga. Kenapa menarik?

Dikisahkan, Presiden Republik Indonesia dan Ibu Negara akan menyelenggarakan peluncuran buku ‘Selalu Ada Pilihan’ karya SBY, di Assembly Hall Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta Pusat, Jumat 17 Januari 2014, sekitar pukul 20.00 WIB. SBY dan keluarganya bahkan sejak siang sudah meluncur lebih dulu di JCC, untuk memeriksa persiapan akhir acara pribadinya itu. Malamnya, acara tersebut benar-benar diselenggarakan.

Selalu ada pilihan SBY

Sementara, pada hari yang sama, Bendung Katulampa sudah menjadi omongan. Berbagai media massa, bahkan mungkin saja pejabat terkait, mulai berbisik-bisik tentang adanya peningkatan besaran air sejak pagi. Pada pukul 11.00 WIB, air sudah mencapai 160 cm. Walau sempat sedikit surut, air kembali naik hingga 180 cm pada pukul 15.25 WIB. Katulampa Siaga 2! Dan sesuai prediksi, beberapa jam kemudian, air dari Bogor tumpah, bersama hujan deras yang mengguyur Jakarta. Malamnya, sebagian wilayah di Ibu Kota Republik Indonesia, banjir!

Ini menarik: kenapa SBY memilih tetap meluncurkan buku pribadinya ketika Katulampa sudah mengirimkan peringatan dini? Padahal, jika menghitung-hitung waktu, dia masih punya jutaan detik untuk prihatin, atau sekadar melakukan pencitraan positif. Istananya kan ada di Ibu Kota. Atau jangan-jangan dia termasuk orang yang menaruh harapan terlalu tinggi terhadap bendung tersebut? Tapi semoga saja bukan karena Sang Jenderal dus Doktor itu tidak mau kalah pamor dari sang peramal banjir Ibu Kota. Sebagai presiden, statusnya tentu lebih wah dibandingkan selebritis musiman. Apalagi, kalau sang ketua partai itu juga mau melakukan sesuatu untuk negaranya sendiri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s