CEMBURU DENGAN BIJAK

Cemburu itu katanya pertanda cinta. Apa iya? Kalau di Kitab Suci saya sih bilang tidak begitu. Paulus menulis, “Cinta tidak cemburu.” Kontradiktif memang. Tapi logis kalau Kamu setuju cinta adalah kata kerja, yang naif: selalu memberi, tak harap kembali.

Walau saya juga pecemburu, tapi setengah otak saya berpikir cemburu tidak ada gunanya. Alasannya sederhana, setiap kita adalah orang bebas, bisa memilih, bisa berkehendak. Kalau dia memang memilih bersama yang lain, apakah cemburu bisa menahan dia pergi? Tidak juga. Sebaliknya, tekanan dan amarah justru bisa memantapkan seseorang untuk berlalu.

Bagi saya solusinya cuma dua: menjaga si dia dan menyelesaikan masalah dengan baik, atau membiarkannya pergi.

Cemburu adalah perasaan yang rumit, tulis Psychology Today. Dia adalah perpaduan antara rasa takut dan marah, dampaknya cenderung lebih merugikan daripada menguntungkan. Tapi setengah otak saya yang lainnya merasa cemburu juga berguna. Karena cemburu pertanda suka, tanda kita menginginkan sesuatu atau seseorang. Dan bukankah diinginkan adalah salah satu kebutuhan dasar setiap pasangan? Sesuatu yang membuat pasangan merasa berharga?

Jadi, tak apalah mencemburui, tapi lakukan dengan bijak ya.

Iklan

Satu pemikiran pada “CEMBURU DENGAN BIJAK

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s