AGAMA PESANAN, KEBEBASAN, DAN KEBENARAN

Febriana Firdaus

“Begitulah sekiranya saya memandang agama. Iman kita sama, cangkir ini. Tapi tak ada satu pun yang menghalangi kita untuk mengisinya dengan agama-agama yang berbeda,” tulis teman saya, wanita berpakaian agamis, di blog pribadinya.

***

Saya masih ingat waktu terakhir kali kami tiba-tiba membahas topik ini: agama, dia dan bagaimana seharusnya saya berpikir kritis. Mimik dan gerak tubuhnya begitu bersemangat, bahkan untuk menggubris jawaban saya. “Iya, Feb, iya.”

Walau menduga-duga ada apa dengan dia, tapi saya suka karena dia mau bergumul dengan kepercayaannya.

Selang beberapa bulan, saat isu legalisasi pernikahan beda agama ramai di media massa, dia mengirimi saya pesan lewat aplikasi WhatsApp, “Baca blog gue! Agama dan Cangkir (Ikutan Trend Nikah Beda Agama).”

***

Saya sepakat kita harus berpikir kritis terhadap ‘warisan orang tua’ yang selama ini tertulis di KTP. Bukankah memang seharusnya begitu? Buat apa menaruh cinta ke mahluk imajiner, yang keberadaannya saja tidak kita percaya. Lebih baik jadi ateis karena alasan, daripada relijius yang tak tahu untuk apa. Kecuali kalau cuma buat seru-seruan sih. Itu beda lagi urusannya.

Tapi saya tidak sepenuhnya sependapat dengan analogi agama dalam cangkir kopi, yang bisa dipesan sesuai keinginan si penikmat, sementara Tuhan hanyalah pemilik cafe yang bertugas menyeduh kopi. Bagaimana kalau ternyata Sang Maha Kuasa adalah hakim ketua di Mahkamah Konstitusi? Mungkinkah memesan hukum mana yang mau dan tidak mau saya ikuti saat Pemilihan Presiden Republik Indonesia? Bisa-bisa saya disentil. “Nakal… nakal… nakal…”

Kalau maksudnya tentang kebebasan beragama, oh, tentu saja setuju. Saya seorang Kristen yang kamarnya pernah dipakai salat oleh beberapa kerabat beragama Islam. Pacar saya seorang Kristen aliran Katolik, yang walau sama-sama pengikut Kristus, punya banyak perbedaan pandangan dengan aliran Calvinis seperti saya. Agama adalah hak individu, dimana pilihan adalah tanggung jawab pribadi dengan Sang Pencipta, bukan urusan FPI.

Tapi, saya percaya kebenaran sejati cuma satu. Kopi adalah kopi, bukan teh. Seorang barista tentu tidak dibenarkan menuangkan teh lalu menyebut itu kopi. Seperti halnya saya adalah saya, bukan orang lain. Jika ada yang mendandani seseorang dan mengenalkannya sebagai saya, ya, tentu saja itu salah, bukan?

Pada akhirnya, seperti cinta, kebenaran bisa saja datang menghampiri, walau ada kalanya kita perlu mencari dan membuka diri. Cinta juga perlu terus diuji, sampai kita menemukan dan punya alasan untuk percaya: Dia orangnya. Selamat mencari.

Iklan

4 pemikiran pada “AGAMA PESANAN, KEBEBASAN, DAN KEBENARAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s