Laki-Laki Jangan Menangis, Katanya

Mereka tersenyum. Ia yang tersimpan sejak sembilan bulan lalu akhirnya menghirup nafas pertamanya.

“Selamat, Pak. Selamat, Bu,” kata dokter yang baru saja membantu mengeluarkan bayi itu dari tubuh ibunya.

“Terima kasih, Dok,” jawab bapak.

Sementara ibu hanya tersenyum, sambil memeluk lembut bayinya di atas dada. Ia masih terlalu lemas setelah bertugas. Tapi ia bahagia, karena perjuangannya terbayar tuntas. Isakkan tangis bayi laki-laki itu memberinya berjuta rasa.

***

“Joni, pelan-pelan, nanti jatuh!” sahut ibu.

“Tenang, Bu, Joni sudah jago kok,” jawab laki-laki kecil itu percaya diri.

Sepeda terus dikayuh kencang penuh semangat, berputar-putar mengelilingi lapangan basket di depan rumah mereka. Sesekali Joni menoleh, mengharap senyuman kepercayaan dari sang ibu.

Brak!’

“Joni!” teriak ibu.

“Aduh… makanya, kan dibilang hati-hati!” sahut ibu sambil berlari menghampiri Joni yang mulai menangis. “Sudah jangan nangis! Laki-laki nggak boleh nangis!”

***

Joni berdiri tegang. Keringat-keringat kecil perlahan terlihat di atas kulit, beradu dengan detak jantung mulai berdegub kencang. Ia cemas sekali, menunggu keputusan yang akan dikatakan orang di depannya.

“Joni, selamat, kamu lulus!” kata ketua sidang.

Dunia terhenti. Sayup-sayup suara tepuk tangan hilang bersama pikiran Joni yang melayang tak karuan. Ia begitu bahagia. Penantiannya selama bertahun-tahun akhirnya selesai juga. Setelah gagal tahun kemarin, hari itu gelar sarjana sosial resmi tersemat di belakang namanya. Setetes air bening tak terasa mengalir melewati pipinya.

“Joni! Wah, masa cowok nangis?!” kata teman-temannya sambil menjabat tangan.

Joni tersenyum, menyeka mata.

“Selamat ya!”

“Terima kasih.”

***

Joni melangkah tergesa-gesa. Tugas-tugas kantor yang masih bertumpuk di depan mejanya dibiarkan tak tersentuh. Baru saja ia mendapat kabar, ayahnya sakit keras. Ia bergegas mendapati motornya yang terparkir rapi di belakang kantor. Semenit kemudian rambu lalu lintas-pun terlanggar.

Tiba di pintu rumah, Joni menatap sosok tubuh pucat terbaring pasrah. Pikirannya kacau. Kesedihan telah membungkus hatinya. Tak sadar raungan kencang keluar dari mulutnya dengan bebas. Air mata pun tertumpah.

“Sudah-sudah! Ikhlaskan bapak untuk pergi,” kata paman yang menghampiri dan memeluknya.

“Kamu harus kuat, kamu anak laki-laki.”

“Sudah, jangan menangis!”


26 September 2006
Warnet seberang IISIP Jakarta
Blog Friendster saya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s